Pages

Banner 468

Rabu, 15 Mei 2019

MOM SHAMING, YAA ALLOH JAUHKAN DARI LISAN SIA SIA

0 komentar
MOM SHAMING

Tempo hari saya membaca sebuah status di sosial media tentang seorang ibu yang mengalami gangguan jiwa karena tertekan pasca melahirkan. Ibu ini berjuang melahirkan anak pertama. Beliau sudah mengalami kontraksi yang hebat serta sudah berusaha mengejan sesuai instruksi dokter, namun bayi tak kunjung keluar. Demi keselamatan ibu dan bayi, akhirnya dokter menginstruksikan untuk melakukan operasi caesar. Bayi pun dapat lahir dengan selamat. Sang ibu yang kelelahan pasca kontraksi dan mengejan, masih harus merasakan perihnya sakit pasca pembedahan. Dalam situasi yang demikian sang ibu justru mendapat kritikan dari kerabat yang mengunjungi.

“Kenapa kok operasi? Nggak kuat ngejan ya? Belum jadi ibu kalau belum bisa melahirkan normal?”, demikian kurang lebih cecaran dari kerabat yang berkunjung.

Padahal seorang ibu pasca melahirkan rentan terkena baby blues dan post partum syndrom yang sangat memengaruhi kondisi kejiwaan sang ibu. Ditambah dengan mom-shaming yang datang berturut-turut dari orang-orang di sekitar, ibu ini akhirnya stress dan mengalami gangguan kejiwaan. Sering melamun, tidak mau menyusui sang bayi, dan puncaknya adalah ketika sang ibu membanting bayinya ke atas matras saat rewel.

Suami pun dibuat bingung dengan tingkah sang istri. Atas anjuran dari teman, suami membawa istrinya berkonsultasi ke psikiater. Diagnosa dokter istri mengalami gangguan jiwa karena baby blues dan harus menjalani perawatan. Suami berupaya menjauhkan istri dari orang-orang yang kerap nyinyir dan berkomentar negatif pada istrinya. Akhirnya sang istri pun kondisinya mulai membaik walau belum sepenuhnya pulih.



Hikmah apa yang dapat kita ambil dari kisah nyata di atas? Hati-hati dalam berkomentar. Kita tidak tahu seberapa tajam lidah kita melukai hati orang lain, apalagi hati seorang ibu yang rentan jiwanya karena perubahan hormon pasca melahirkan.

Mom-shaming itu sangat menyakitkan. Namun kita bertemu dengan begitu banyak orang setiap hari, dengan berbagai macam karakter yang mungkin berpotensi mengeluarkan kata-kata sindiran, ejekan, nyinyiran dan lain sebagainya. Bagaimana kita mengatasinya?

Sebelumnya mungkin belum banyak yang tahu tentang mom-shaming. Menurut Retno Prasetyo Ningrum (psikolog), mom-shaming berarti merendahkan seorang ibu karena pilihan pengasuhannya berbeda dari pilihan-pilihan yang dianut si pengkritik. Mom-shaming seperti bullying, namun tujuannya membuat ibu yang menjadi target merasa salah dan buruk, sementara si pelaku benar dan sempurna. Perilaku mom-shaming bisa berupa sindiran, komentar, dan kritik yang sifatnya negatif. Mom-shaming dapat terjadi secara langsung pada seorang ibu namun dapat juga terjadi dalam dunia maya seperti halnya cyberbullying. Fenomena ini normal terjadi pada kehidupan pengasuhan. Hanya saja, mungkin kebanyakan dari kita tidak pernah tahu aksi tersebut ternyata punya istilah khusus.

Menurut data mamapedia.id pelaku mom-shaming yang paling banyak justru dari keluarga dekat yaitu :
-Orangtua sendiri (37%)
-Suami (36%)
-Mertua (31%)
-Teman-teman (14%)
-Sesama mama di publik (12%)

Sedangkan topik pemicu mom-shaming berkisar antara :
-Cara disiplin anak (70%)
-Nutrisi-pola makan anak (52%)
-Pola tidur anak (46%)
-ASI VS susu formula (39%)
-Keamanan (20%)
-Tempat pengasuhan anak/daycare (16%)

Dampak mom-shaming terhadap ibu antara lain :
❤Kepercayaan dirinya akan terguncang dan meningkatkan kecemasan tentang pengasuhannya
❤Kecemasan karena takut dikritik dan disalahkan
❤Kritik yang berasal dari seseorang yang kita percayai akan lebih menyakitkan
❤Dan seiring waktu, kecemasan tersebut dapat berbahaya bagi kesehatan ibu dan anak

Bagaimana cara menghadapi mom-shaming?

Menurut ibupedia.id ada 9 cara menghadapi mom-shaming, antara lain :
❤Menerima kenyataan bahwa kita pasti akan mendapat komentar dari siapapun tanpa diminta saat menjadi ibu
❤Pahami saja jika ada beberapa ibu yang merasa lebih baik saat mereka menghakimi dan mengkritik orang lain
❤Tutup telinga dari kritik tanpa dasar atau fakta ilmiah. Biarkan orang-orang tersebut berbicara sesukanya
❤Mom-shaming sering dilakukan untuk menutupi rasa bersalah seseorang tentang berbagai hal yang mereka harap bisa kembali dilakukan dengan cara berbeda
❤Bertemanlah dengan orang-orang yang mendukung anda, jangan menghabiskan waktu bersama orang yang suka menghakimi
❤Menerima kondisi ketika ada hari-hari dimana kita merasa tidak becus menjadi ibu.
❤Percayalah tak ada ibu yang sempurna, semua pasti melakukan kesalahan.
❤Jangan terpengaruh pada ibu yang terlihat mudah menjalani kehidupan parentingnya. Apa yang kita lihat di sosial media tak menggambarkan kondisi yang sebenarnya
❤Judgement yang kita terima mungkin terjadi karena kurangnya pengetahuan dari orang yang menghakimi
❤Hanya anda yang mengenal ananda lebih dari siapapun, jadi percaya dirilah dengan semua keputusan yang anda ambil.

Kita sendiri pun jangan sampai melakukan mom-shaming pada ibu yang lain ya. Ada banyak cara untuk menunjukkan perhatian, pilihlah kata-kata yang tidak melukai :

Daripada mengatakan “ASI kamu sedikit ya?”, sebaiknya mengatakan “Kamu sudah mencoba ASI booster yang ini?”

Daripada mengatakan “Cara menggendongmu salah tuh”, lebih baik mengatakan “Cobalah posisi M-shape supaya si kecil lebih nyaman”.

Daripada mengatakan “Kok caesar? Kenapa nggak normal aja” lebih baik mengatakan “Semoga cepat pulih ya”

Daripada mengatakan “Anaknya kok kurus sih” lebih baik mengatakan “Anaknya mau tambah tinggi ya”

Demikian, selamat mencoba tips-tips di atas. Semoga dapat menghindarkan para ibu dari stress akibat mom-shaming sekaligus melatih diri agar tidak melakukan mom-shaming pada orang lain.

Akhir kata, ada kutipan bagus dari buku Enlightening Parenting. Hati-hati dengan pikiran. Pikiran akan menjadi ucapan, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Ucapan mewujud dalam tindakan, tindakan yang berulang menjadi kebiasaan, kebiasaan mengkristal menjadi karakter.

Hani Fatma Yuniar

0 komentar:

Posting Komentar